Kamis, 26 Juli 2012

Bahasa Jawa, Arab, Melayu di Palembang

Keraton Kesultanan Palembang berkomunikasi dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, Arab, dan Melayu. Bahasa melayu hidup di kawasan ini jauh sebelum Kesultanan berdiri dan di yakini sebagai bahasa masyarakat asli. Tertulis dengan huruf pallawa, bahasa Melayu di gunakan dalam Prasasti Kedukan Bukit (682 M). Prasasti yang ditemukan ditepi Sungai Tatang, sebelah barat Kota Palembang, pada tahun 1920, menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Berbagai temuan sejarah Kerajaan Sriwijaya, termasuk arca dan stupika, menunjukkan bahwa Sriwijaya menjalin kerjasama serta berkomunikasi erat dengan para saudagar dan pemuka agama dari China, India, dan Arab. Hal itu membuktikan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan yang besar, berpengaruh, dan diperhitungkan. Sriwijaya memiliki rentang wilayah kekuasaan yang luas, meliputi hampir seluruh Sumatera, Semenanjung Malaka, dan Jawa. Setelah keruntuhan Sriwijaya, pada abad ke - 14, Palembang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Namun, kekuasaan Majapahit tidak mengakar dikawasan ini. Majapahit sendiri duguncang perang saudara, tak lama berekspansi ke pulau Sumatera. Palembang nyaris menjadi daerah tak bertuan, hingga kekuasaan baru di bangun Ki Gede Ing Suro bersama para pengikutnya. Kelompok bangsawan ini menyingkir ke Palembang, setelah kalah dalam perseteruan Kesultanan Demak di Jawa Tengah.

Kontinuitas kultural Jawa tertanam sebagai dasar legitimasi Keraton Palembang. Budayawan Palembang, Djohan Hanafiah mencatat, keterkaitan politik ini berakhir setelah Sultan Abdurrahman (1659-1706) memproklamasikan Kesultanan Palembang pada tahun 1675. Jeroen Peeteers dalam Kaum Tuo Kaum Mudo, perubahan religius Palembang 1821-1942 (1997) memaparkan, dikalangan Keraton, Bahasa Jawa Kromo (bahasa Jawa halus) menjadi bahasa resmi. Akan tetapi, pemakaian bahasa ini tidak tersebar luas diluar lingkungan Keraton Palembang.

Merujuk pada sejumlah naskah berbahasa Jawa yang tersimpan di Royal Asiatic Society, Londo, Peeteers menyakini naskah-naskah tersebut juga hanya beredar dilingkungan keraton. Beberapa naskah berbahasa Jawa ini antara lain Teks Panji (1801) yang ditulis atas perintah Sultan Ahmad Najamuddin. Kesultanan Palembang Darussalam menjadikan agama Islam sebagai dasar negara. Oleh karena itu, ulama mendapatkan penghormatan sangat tinggi Sultan yang berkuasa. Mujib Ali dalam tulisan Pemilihan Ulama Kesultanan Palembang (1997), mengungkapkan penelitiannya bahwa ulama Kesultanan yang mendampingi dan menjadi penasehat Sultan selalu dimakamkan ditempat, bilik, dan deretan yang sama dengan sultan.

Pada makam Kesultanan di Candi Walang, Palembang misalnya, makan susuhan abd 'I-Rahman Khalifat 'I Mukminin Sayyid 'I Imam diapit makam permaisuri dan dan makam Imam Sultan bernama Sayyid Mustafa Alaidrus dari negeri Yaman. Penataan serupa terdapat pula pada makam-makam Sultan yang lain di Kebon Gede, Kawah Tengkurep, dan Kampung 1 Ilir.

Selain didampingi ulama, Sultan juga memiliki juru tulis khusus untuk penulisan bahasa Arab. Bahasa dan tulisan Arab digunakan dalam kitab-kitab utama pengajaran Islam di Palembang, termasuk naskah yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir. Sebagian naskah-naskah keagamaan yang ditemukan, merupakan kitab yang langsung dibawa dari Arab. Sebagian lainnya disalin dengan ketelitian yang tinggi di Palembang.

Akan tetapi, seperti bahasa Jawa Kromo yang hanya di kuasai oleh kalangan bangsawan, bahasa Arab juga lebih dikuasai para guru atau kalangan ulama. Sejumlah naskah keagamaan menggunakan bahasa Arab dilengkapi dengan terjemahan bahasa Melayu, walaupun tetapdi tulis dengan huruf Arab. Naskah-naskah sastra, antara lain hikayat yang berbentuk prosa maupun syair, serta berbagai kisah dalam naskah-naskah pada masa Kesultanan lebih banyak ditulis dengan tulisan Arab dalam bahasa Melayu (Arab Melayu). Kegiatan surat-menyurat, antara laindari Gubernur Batavia juga ditemukan dalam bahasa Arab Melayu.

Djohan Hanafiah dalam bukunya Masjid Agung, Sejarah dan Masa Depan (1988) menyebutkan, Abdul Samud Al-Palembani (1704-1788) adalah salah satu penulis keagamaan yang paling menonjol pada masa Kesultanan. Palembani menuntut ilmu di Mekkah dan belajar tarikat pada Muhammad Al-Saman di Madinah. Sebagian karya Palembani ditulis ketika ia masih berada dinegeri Arab. Karya-karya Palembani antara lain, Hikayat Al-Salikin dan Syair Al-Salikin yang merupakan terjamahan karya Al-Ghazali. Disamping dua kitab berbahasa melayu tersebut, terdapat pula Zahrat al Murid fi bayan al Tauhid, dan lima kitab keagamaan lainnya dalam bahasa Arab.

Sebagian buku-buku Al-Palembani merupakan naskah yang masih tersimpan diberbagai perpustakaan, antara lain di Perpustakaan Museum Nasional Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, dan Russian Institute of Oriental Studies di Leningrand Rusia. Mujib menjelaskan, naskah "favorit" Sultan Mahmud Badaruddin II yang ia temukan dalam penelitian adalah Mir'atu at Tulab karya Ar-Raniri. Penelitian pada kantor Deputi urusan Arkeologi inimenjelaskan, kitab ini berisikan pedoman pelaksanaan tata pemerintahan kesultanan.

KOMPAS

Rabu, 18 Juli 2012

Arti Lambang Pemerintah Kota Palembang

Bangunan Sirah yaitu rumah Palembang warna asli merah tua coklat dengan pinggiran keemasan berikut 2x (4+5) = 18 tanduk lembaran daun teratai. Di tengah atasan terdapat kembang melati yang belum mekar, berikut simbar yang melambangkan kerukunan kekeluargaan kesejahteraan Kota Palembang di segala zaman.

Puncak rebung warna kuning keemasan, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Jumlah 8 buah, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Jumlah 8 buah, melambangkan bulan Agustus yang bersejarah, bulan Prokalamasi yang mengingatkan perjuangan Kemerdekaan RI.

segi tiga ialah sebuah bukit yang termasyur di Palembang dengan nama BUKIT SIGUNTANG berwarna hijau berikut sinar keemasan, melambangkan tanggal 17 hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Bukit Siguntang adalah tempat kesucian dimasa zaman purbakala yaitu diabad ke VII s.d. XII terdapat kumpulan candi-candi, kuil-kuil, dan Perguruan Tinggi dikunjungi oleh Pendeta-pendeta dan pelajar-pelajar di seluruh Asia.

Palembang.go.di

Kisah Jalan Guru-Guru

Masjid Agung, landmark Kota Palembang, sudah berdiri dua abad lalu dijantung Kota Palembang. Hingga beberapa tahun lalu, kepadatan jantung kota, termasuk disekitar kawasan masjid, sangat terasa. Pemukiman tua melingkari masjid. Rumah-rumah panggung terbuat dari papan, tetapi kokoh dan tetap tegak, meski dimakan usia. Pemukiman itu tumbuh sepanjang usia masjid yang dibangun Sultan Mahmud Badaruddin jayo Wikramo pada tahun 1733 hingga tahun 1748.

Kini, pemandangan lingkungan tua itu sudah berubah. Masjid Agung diperluas, dipercantik, dan diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri, Juni 2003 lalu. Jalan lingkar Masjid Agung diperluas, tentu saja puluhan rumah panggung tersingkir dari kwasan itu. Di ujung jalan lingkar barat Masjid terpasang papan nama Jalan Faqih Jalaludin. Bersambung kesisi utara masjid, terdapat ruas jalan pendek, kurang dari 100 meter, yang beberapa bulan lalu di namai Jalan Tjek Agus Kiemas, nama mendiang ayah Taufik Kiemas suami Presiden Megawati.

Meskipun papan nama jalan terpancang jelas, ornag-orang, terutama orang tua di Ibukota Palembang, masih menyebut jalan lingkar masjid itu sebagai Jalan Guru-Guru. Hingga tahun 1908-an, kawasan ini masih dikenal sebagai "Guguk Pengulon" yang berarti pemukiman para penghulu atau ahli agama. "Jalan ini dulu dikhususkan bagi pemukiman para guru atau ulama yang mengajarkan agama," ujar Kms Andi Syaifudin (32), pemuda yang lahir dan besar di Jalan Guru-Guru menuturkan asal sebutan jalan itu.

Budayawan Palembang, Djohan Hanafiah menggambarkan, pada masa lalu Jalan Guru-Guru atau Guguk Pengulon, merupakan hunian sejumlah keluarga besar yang membaktikan diri mereka untuk agama secara turun-temurun. Kegiatan pengajaran ilmu agama pada masa Kesultanan Palembang, abad ke-17, abad ke-19, berjalan aktif. Para muridnya datang dari berbagai daerah di pulau Sumatera. Mereka tinggal bersama sang guru di Guguk Pengulon. Tak mengherankan, kebanyakan rumah panggung di kawasan itu memiliki semacam ruang pertemuan yang cukup luas.

Ilmu yang diajarkan secara turun-temurun juga diwariskan sebagai peninggalan naskah-naskah kuno pada lingkungan keluarga di kawasan ini. Kms Andi Syarifudin misalnya, ia memiliki 65 naskah tulisan tangan dari abad ke-18 dan ke-19. naskah-naskah yang diwarisi Andi iniadalah memuat ajaran tasawuf, tafsir kitab, maupun karya-karya sastra, antara lain Syair Perang Menteng.

Andi mengungkapkan kesedihannya ketika sejumlah naskah kuno dipemukiman tua itu hangus terbakar bersama belasan rumah disebelah utara masjid, sebelum renovasi Masjid Agung di mulai pada tahun 1999. Pria tamatan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, Palembang, ini bukan saja menyimpan warisan naskah. Ia juga berusaha berusaha mempelajari naskah-naskah berbahasa Arab dan Arab Melayu.
Untuk mendukung pemahamannya atas naskah-naskah kuno itu, Andi juga berusaha mempelajari buku-buku yang yang menjelaskan kontek sejarah. Menyusun perpustakaan menjadi salah satu kegemarannya. Meskipun mencintai buku, perawatan yang dapat dilakukan Andi atas naskah-naskah kuno itu sangat terbatas. Sejumla naskah yang disimpannya semakin rapuh.

Andi adalah potret pemuda yang perduli pada warisan dan sejarah. Naskah-naskah kuno yang ia miliki mungkin menjadi tak terbaca. Namun, penghargaan atas keluhuran tata nilai dan keunggulan karya sastra yang tersimpan dalam naskah itu, tak akan hilang dari benaknya.

KOMPAS

Senin, 16 Juli 2012

Kerajaan Sriwijaya

SRIWIJAYA adalah kerajaan Melayu kuno di Pulau Sumatera yang banyak berpengaruh di kepulauan Nusantara. Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6 bulan. Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, Yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, pada tahun 682. Kerajaan ini mulai jatuh pada tahun 1200 dan 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan Majapahit. Dalam bahasa Sansekerta sri berati "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan."

Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Prancis George Coedes dari Ecole Francise d'Extreme-Oriental. Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Siguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan)

Historiografi


Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidaj ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedes mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedes menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "Sanfoqi" sebelunnya dibaca "Sribhoja," dan prasasti dalam Melayu kuno merujuk kepada kekaisaran yang sama.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar yang dapat Majapahit di timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara sebelum kolonialime Belanda.

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama Tionghoa menyebutnya San-fo-si atau San-Fo-Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadesh. Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu. Banyak nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.

Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang diketahui berkaitan dengan Sriwijaya:
Berbahasa Sansekerta atau Tamil

Prasasti Ligor di Thailand
Prasasti Kanton di Kanton
Prasasti Siwagraha
Prasasti Nalanda di India
Piagam Leiden di India
Prasasti Tanjor
Piagam Grahi
Prasasti Padang Roco
Prasasti Srilangka

Sumber Berita Tiongkok



Kronik dari Dinasti Tang
Kronikdari Dinasti Sung
Kronik dari Dinasti Ming
Kronik Perjalanan I-tsing
Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma huan

Prasasti Berbahasa Melayu kuno



Prasasti Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palemabang
Prasasti Talang Tuwo tanggal 23 Maret 684 Masehi di Palembang
Prasasti Telaga Batu abad ke-7 Masehi di Palembang
Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi di Lampung Selatan
Prasasti Karang Berahi abad ke-7 Masehi di Jambi
Prasasti Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi di Pulau Bangka
Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Pembentukan dan Pertumbuhan


Peta pengaruh Sriwijaya di abad ke-10
Tidak banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan. Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Cri Yacanaca (Dapunta Hyang Sri Jayanasa). Ia memimpin 20.000 tentara (terutama tentara darat dan beberapa ratus kapal) dari Minanga Tamwan ke Palemabang, Jambi, dan Bengkulu.

Kerajaan ini adalah pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagastar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang. Kerajaan ini terdiri dari tiga zona utama -- daerah ibukota muara yang berpusat di palembang, lembah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasaan saingan. Wilayah hulu Sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok. ibukota diperintah secara langsung oloeh penguasa, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.

Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Sailendra di Jawa Tengah berada dibawah dominasi Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. di abad ini pula, Langkasuka di Semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Dimasa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak disebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.

Ekspansi kerajaan ke Jawa dan semenanju Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura ditepi Sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada dibawah kendali Palembang. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa yang selesai pada tahun 825.

Diabad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Langka, Semenanjung Melayu, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipina. Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.

Buddha Vajrayana


Sebagai pusat pengajaran Buddha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak penziarah dan sarjana dari negar-negara Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I-tsing, yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di Nalanda, India pada tahun 671 dan 695, serta diabad ke-11, Atisha, seorang sarjana Buddha asal Banggala yang berperan dalam pengembangan Buddha Vajrayana di Tibet. I-tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Buddha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan.

Relasi dengan Kekuatan Regional


Meskipun catatan sejarah dan bukti arkeologi jarang ditemukan, tetapi beberapa menyatakan bahwa pada abad ke-7, Sriwijaya telah melakukan kolonisasi atas seluruh Sumatera, Jawa Barat, dan beberapa daerah di Semenanjung Melayu. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengandali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaan sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India.

Kerajaan Jambi yang merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang akhirnya dapat ditaklukkan pada abad ke-7 dan ke-9. Di Jambi, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi yang cukup penting dan kata Suarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatera, Semenanjung Melayu, dan Kalimantan bagian Barat. Pada abad ke-11 pengaruh Sriwijaya mulai menyusut. Hal ini ditandai dengan seringnya terjadi konflik dengan kerajaan-kerajaan Jawa, pertama dengan Singasari dan kemudian dengan Majapahit. Diakhir masa, pusat kerajaan berpindah dari Palembang ke Jambi.

pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengkliam bahwa Chaiya, di provinsi Surat Than, Thailand sebagai ibukota terkhir kerajaan, walaupun klaim ini tidak mendasar. Pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit) dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti tertahun 860 mencatat bahwa raja Balaputeredewa mendedikasikan seorang biara kepada Nalanda, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India selatan cukup baik dan menjadi buruk setelah terjadi peperangan di abad ke-11.

Masa Keemasan


Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara tahun 820 - 850, pemerintahan Jambi menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka dengan mengirimkan utusan ke China pada tahun 853 dan 871. Kemerdekaan jambi bertepatan dengan dirampasnya tahta Sriwijaya di Jawa dengan diusirnya raja Balaputeradewa. ditahun 902, raja baru mengirimkan upeti ke China. Dua tahun kemudian raja terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada kepada utusan Sriwijaya.

Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Pada tahun 903, penulis Muslim Ibn Batutah sangat terkesan dengan kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang (khususnya Bukit Siguntang), Muara Jambi, dan Kedah.

Penurunan



Tahun 1025, Rajendra Chola, raja Chola dari Koromandel, India selatan menaklukan Kedah dari Sriwijaya dan menguasai. Kerajaan Chola meneruskan penyerangan dan penaklukan selama 20 tahun berikutnya keseluruh imperium Sriwijaya. Meskupun invasi Chola tidak berhasil sepenuhnya, tetapi invasi tersebut telah melemahkan hegemoni Sriwijaya yang berakibat terlepasnya beberapa wilayah dengan membentuk kerajaan sendiri, seperti kediri, sebuah kerajaan yang berbasiskan pada pertanian.

Antara tahun 1079 - 1088, orang Tionghoa mencatat bahwa Sriwijaya mengirimkan utusannya dari Jambi dan Palembang. Tahun 1082 dan 1088, Jambi lebih dari dua utusan ke China. Pada periode inilah pusat Sriwijaya telah bergeser secara bertahap dari Palembang ke Jambi. Ekspedisi Chola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat kerajaan.

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chi-fan-chi yang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa dikepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni Sriwijaya dan Jawa (Kediri). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama buddha dan Hindu, sedangkan rakyat Sriwijaya memeluk agama Buddha. Berdasarkan sumber ini pula dikatakan bahwa beberapa wilayah kerajaan Sriwijaya ingin melepaskan diri, antara lain Kien-pi (Kampe, diutara sumatera) dan beberapa koloni di Semenanjung Malaysia. Pada masa itu wilayah Sriwijaya meliputi; Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ssi-kia (Langkasuka), Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (?), Ji-lo-t'ing (Jeluteng), Ts'ien-mai (?), Pa-t'a (Batak), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor), Kia-lo-hi (Grahi, bagian utara Semenanjung Malaysia), Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri, di Aceh), and Si-lan (Srilangka?).

Pada tahun 1288, Singasari, penerus kerajaan Kediri di Jawa, menaklukan Palembang dan Jambi selama masa ekspedisi Pamalayu. Ditahun 1293, Majapahit pengganti Singasari, memerintah Sumatera. Raja ke-4 Hayam Wuruk memberikan tanggungjawab kepada Pangeran Adtyawarman, seorang peranakan Minang dan Jawa. Pada tahun 1377 terjadi pemberontakan terhadap Majapahit, tetapi pemberontakan tersebut dapat dipadamkan walaupun diselatan Sumatera sering terjadi kekacauan dan pengrusakan.

Dimasa berikut, terjadi pengendapan pada Sungai Musi yang berakibat tertutupnya akses pelayaran ke Palembang. Hal ini tentunya sangat merugikan perdagangan kerajaan. Penurunan Sriwijaya terus berlanjut hingga masuknya Islam ke Aceh yang disebarkan oleh pedagang-pedagang Arab dan India. Diakhir abad ke-13, kerajaan Pasai dibagian utara Sumatera berpindah agama Islam. Pada tahun1402, Paraswara, [angeran terkhir Sriwijaya mendirikan Kesultanan Malaka di Semenanjung Malaysia.

Perdagangan



diidunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas Selat Malaka dan Selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper, kayu gaharu, cengkeh, pala, kapulaga, gading, emas dan timah.

Pengaruh Budaya



Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu lewat perdagangan dan penaklukan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9.

Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatera melalui Aceh dan telah tersebar melalui hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414, Pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan Kesultanan Malaka.

Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan nusantara dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan 1068, Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Cholamandala (India) yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja Tunggadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu lintas perdagangan Tiongkok dan india. Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada dibawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya.

Wahana-budaya-Indonesia.com