Rabu, 09 Januari 2013

Sigap, Cepat, Tangkas


Latihan: Personel Satuan Brimob Polda Sumsel, kemarin menggelar latihan rutin bersama di Kelurahan Bukit Besar, Kecamatan Ilir Barat (IB) I. Ini dalam rangka pengamanan sejumlah pemilukada di Sumsel yang berlangsung sepanjang 2013

PALEMBANG - Ribuan personel dari satuan Brimob Polda Sumatera Selatan yang bermarkas di Kelurahan Bukit Besar, Kecamatan Ilir Barat I (IB I), Palembang siap mengawal pemilihan umum kepada daerah (pemilukada) di sejumlah daerah di Sumsel. Saat ini, mereka rutin melakukan latihan pengamanan.

“Setidaknya, ada 1.100 personel lebih kami siapkan untuk melakukan pengamanan pilkada di sejumlah daerah di Sumsel,” ujar Kombes Pol Drs H Adeni Mohan DP MM, Dansat Brimob Polda Sumsel di sela-sela latihan rutin, kemarin (7/1).

Selain menyiapkan kemampuan para personel, menurut Adeni, latihan juga untuk menjaga kesatuan tim dan kelengkapan peralatan yang akan digunakan, seperti senjata api dan amunisi.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyiapkan alat transportasi, seperti barracuda dan lainnya. Khusus latihan kemarin, melibatkan ratusan personel. Terdiri dari lima tim yakni, SAR, penjinakan bom (jibom), one teror, silent operation, dan pasukan huru hara (PHH). "Kita juga sudah mengirim personel untuk pengamanan pilkada di Pagaralam dan Muara Enim."

Nah, latihan sendiri mencakup spider stlye atau yang biasa dikenal operasi secara diam-diam dengan tidak menimbulkan kegaduhan. Kemudian, latihan inter resmob dan blackhing (pendobrakan pintu secara paksa untuk menangkap target sasaran yang ada di dalam ruangan). “Kami juga melakukan monitoring pengawasan,” ulasnya.

Adeni mengaku, dari latihan one teror juga dibekali pelatihan pengamaan VIP dan latihan pertempuran jarak dekat (PJD). Latihan bersifat rutin biar anggota satuan Brimob Polda Sumsel selalu prima dan memiliki kemampuan yang andal. “Karena itu, kami terus berlatih dan berlatih. Terpenting, baik latihan ataupun pelaksanaan tugas, yang kita utamakan kesiagaan, kecepatan, dan ketangkasan,” pungkasnya. (nni/ce2)

Sumatera Ekspres, Selasa, 8 Januari 2013

Palembang Diusianya Ke 1.328



Palembang sejak dulu terkenal sebagai Venesia dari Timur. Karena banyaknya anak-anak sungai Musi yang membelah kota ini. Beragam aktivitas tergantung pada sungai Musi yang bagian hulunya berasal dari Bukit Barisan Bengkulu ini. Berbincang bersama orang-orang tua saat ini, ingatan mereka masih lekat akan adanya pasar-pasar terapung. Ketika penjual dan pembeli masih melakukan transaksi dari atas sungai.

Karena kehidupan masyarakat kala itu, berada di pinggiran sungai. Berbeda dengan kebanyakan rumah yang kini bagian depanya menghadap ke jalan, pemukiman rumah asli Palembang kala itu, cenderung menghadap ke sungai.

Masalah transportasi, masyarakat saat itu kebanyakan bergantung pada perahu. Untuk penyebrangan dari hulu ke hilir, kala itu masih digunakan kapal Mary serta kapal roda lambung yang bermuatan besar. Mengangkut penumpang yang hendak bepergian seputar kawasan Plaju, Sungai Gerong hingga Kertapati.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda cukup banyak anak-anak sungai Musi ini cukup banyak ditimbun. Seperti sungai Kapuran di jalan Merdeka serta sungai Tengkuruk yang kini hilang tak membekas akibat dijadikan jalan.

Cukup sulit dibayangkan jika terdapat sungai di jalan tersebut. Namun, jika melihat foto-foto lama situasi Palembang, di sekitaran Masjid Agung yang dulunya masuk dalam lingkungan Keraton Palembang, masyarakat terlihat mengambil air wudu’ di anak-anak Sungai Musi. Hal yang tidak dapat disaksikan lagi saat ini.

Sejarawan Palembang, Ali Mansyur yang kini menjadi pengajar di program studi sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah mengaku saat dirinya masih duduk di kelas 2 SMP tahun 1950-an, kawasan Palembang bisa dikatakan masih sangat kecil alias sempit. Seperti apa Palembang kala itu? Saat itu, angkutan umum masih menggunakan mobil ketek, layaknya kendaraan pada film si “Doel Anak Sekolahan”. Dari pasar 16 Ilir, kendaraan ini hanya berputar di kawasan Cinde.

Pasar Cinde dulu seingatnya berada tepat di tengah jalan yang kini ada tugu berupa tank baja. “Terus jalan itu baru di perpanjang ke arah Pahlawan,” jelasnya. Yang cukup megah gedung RS RK Charitas. Hanya saja, jalan Veteran serta Kapten A Riva’i saat ini belum dibangun. Tempat hiburan seingatnya hanya gedung bioskop. Berada di seputaran jalan Merdeka yang ia perkirakan kini menjadi kantor Disperindagkop Palembang.

“Namanya dulu Bioskop Oriental lalu berganti jadi Bioskop Saga. Di depan masjid Agung, tepatnya di jalan Tengkuruk pun ada satu bioskop,” ungkapnya. Perubahan signifikan ketika mulai dibangunnya Jembatan Ampera mulai tahun 1960. Sejak dioperasikan mulai tahun 1965 jembatan ini berperan besar menunjang perekonomian Palembang.

“Palembang lebih maju lagi setelah ada Pekan Olahraga Mahasiswa (POM). Jadi banyak dibangun Gedung Olahraga. Yang kini jadi Kawasan Kampus dengan nama jalanya POM XI,” ujar Mansyur.

Sejak diberlakukanya Undang Undang otonomi daerah nomor 22 tahun 1999, peran kepala daerah, dalam hal ini Walikota menurut Ali Mansyur menjadi sangat penting dalam pembangunan Palembang. Pasalnya, Walikota memiliki peran penting, penentu kebijakan Palembang. Berbeda pada masa orde baru ketika pelaksaan pembangunan, Walikota sebatas pelaksana. Sedangkan kebijakan ditentukan pusat.

Yang namanya Walikota Palembang, berdasarkan catatan sejarah, sejak tahun 1919 terdapat 20 orang. Tentu saja, Walikota Palembang saat ini, Ir Eddy Santana Putra MT yang kini berpasangan dengan H Romi Herton SH MH menorehkan catatan emas pembangunan Palembang.

Eddy Santana sendiri yang telah dua periode memimpin kota pempek ini, mencatatkan kenangan manis dengan pembangunan Plaza Benteng Kuto Besak. Dari sebuah pasar buah yang kumuh dan becek disulapnya menjadi tempat hang out bagi masyarakat.

Dengan pembenahan di sekitaran bawah jembatan Ampera, kesan Palembang yang dulunya di cap “berbahaya” kini menghilang. “Banyak programnya juga berhasil. Terutama masalah air ledeng yang dulu sulit didapat kini bisa dinikmati masyarakat luas,” tandas Ali Mansyur.

Masa emas kepemimpinan Eddy-Romi yang akrab dipanggil HERO ini juga sempat dikemukakan Ir H Anwar Rifa’i, Dosen Arsitektur IGM yang kini berumur 75 tahun. Pria yang sudah mengenal beberapa Walikota, dari zaman Walikota ke-12 era H Ali Amin (1955-1960) melihat banyak terobosan besar dilakukan Eddy Santana yang sudah dua periode menjabat Walikota Palembang.

Ir Chairul Murod MT, dosen Arsitektur Fakultas Tehnik Unsri serta principal Magma Architect Community. Dalam pandangan dua akademisi ini, selain keberhasilan membangun BKB, pengembangan Puskesmas swakelola, jangkauan PDAM yang hampir menyentuh seluruh sudut kota, pembangunan Rusunawa, beroperasinya Bus Trans Musi, masuknya gas kota yang murah bagi masyarakat, pembangunan gedung DPRD yang megah, tertatanya kawasan Kambang Iwak (KI), hingga diraihnya Piala Adipura yang kini genap kelima kali berturut -turut menunjukan Palembang sebagai Kota Metropolitan yang bersih terjadi dibawah kepemimpinan Eddy Santana. Bahkan, dalam kacamata Anwar Rifa’i sendiri, julukan kota metropolitan atau metropolis bagi Palembang juga terjadi pada masa Eddy Santana.


Principal Magma Architect Community
Tanggal 16 Juni mendatang umur kota Palembang genap mencapai 1.329 tahun. Namun, urusan pemerintahan, kota metropolis ini baru dipimpin oleh yang namanya Walikota sejak tahun 1919. Hingga kini, tercatat 20 Walikota yang pernah memimpin Palembang. Tak sembarang orang mengenal seluruh Walikota tersebut, Ir H Anwar Rifa’i yang kini berumur 74 tahun setidaknya hanya mengenal Walikota ke-12, H Ali Amin (1955-1960) hingga Walikota yang masih aktif, Ir H Eddy Santana Putra MT.

Anwar mengawali karirnya sebagai PNS dilingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang sejak tahun 1962 pada dinas Pekerjaan Umum (PU), masa kepemimpinan Walikota Abdullah Kadir (1962-1968). Beberapa jabatan penting pernah diembanya di dinas PU, Tata Kota hingga Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Tahun 1991 Anwar pindah ke Pemerintah Provinsi dan pensiun tahun 1995. hal inilah yang membuatnya mengenal sosok Walikota dari masa ke masa.

Dalam pandanganya, tiap Walikota mempunyai kelebihan serta kekurangan. Namun, tiap kepemimpinan Walikota mempunyai arah pembangunan berkesinambungan layaknya anak tangga. Tiap Walikota biasanya meneruskan pembangunan dari para pendahulunya.

Sosok Ali Amin, ayah almarhum budayawan Djohan Hanafiah sendiri dikenal Anwar sebagai sosok conceptor handal. “Pasar Cinde merupakan salah satu karyanya,” ungkap Anwar mengawali perbincangan dikediamanya komplek Bukit Sejahtera Polygon, Selasa (8/6) lalu.

Sedangkan Abdullah Kadir, dinilainya sebagai seorang pemberani. Seingat Anwar, Abdullah Kadir yang mantan anggota Polri itu, membangun infrastruktur di Palembang tanpa modal. Hal yang membuat Anwar memberikan nilai plus pada pemimpin yang satu ini.

Tak mendapat bantuan keuangan dari pemerintah pusat, Abdullah Kadir berani meminjam uang untuk membangun kota empek-empek ini. Istilahnya gali lubang, tutup lubang. Hasilnya cukup signifikan. Pembangunan, penampalan jalan hingga pembangunan perumahan, salah satunya di kawasan Jl Rajawali yang dulunya rawa dapat berjalan dengan baik.

Zaman Rasyad Nawawi (1968-1970) tak begitu banyak perubahan. Kondisi politik yang tidak stabil ikut mempengaruhi era kepemimpinanya. Barulah pada masa pemerintahan RHA Arifa’i Tjek Yan (1970-1978) ekonomi di Palembang mulai menggeliat.

Mang Yan –sapaan akrab RHA Arifa’i Tjek Yan- dinilai Anwar cukup mujur. Banyak bantuan pemerintah pusat dikucurkan pada masa Mang Yan. Alhasil, pembangunan fasilitas umum dan sosial berjalan. Dari gedung Sekolah Dasar (SD), jalan, Puskesmas, hingga kantor Camat.

“Di beberapa kawasan, seperti Ilir Barat (IB), Ilir Timur (IT) serta Seberang Ulu (SU), kantor Camat dibuat berdekatan dengan kantor polisi. Ini ide dari Mang Yan,” ujar Dosen Arsitektur di IGM ini. Sentral ekonomi masyarakat Palembang, kawasan pasar 16 Ilir yang dulunya sempit, diperlebar. Ini merupakan terobosan terbesar pada masa pemerintahan Mang Yan.

Masuk pada masa kepempimpinan Drs H Dahlan HY (1978-1983) tak begitu banyak terobosan. Dahlan dikatakan Anwar hanya meneruskan kebijakan pembangunan pendahulunya. Hal senada diungkapkan Ir Chairul Murod Mt. “Secara fisik, zaman pak Dahlan belum ada perkembangan signifikan,” ujar Dosen Arsitektur Fakultas Tehnik Unsri dibincangi Selasa (8/6) lalu.

Dalam pandangan pria yang juga menjabat sebagai principal Magma Architect Community ini, perkembangan pembangunan kembali menggeliat pada masa kepemimpinan H Cholil Aziz SH. Pasalnya, bangunan fisik sebagai bukti nyata berhasilnya program dicanangkan mulai terlihat. Hal ini terlhat dari berdirinya komplek Ilir Barat Permai, International Plaza (IP), pertokoan Dika, Megharia, kawasan perumahan elit Bukit Sejahtera Polygon, rumah susun (rusun), serta perumahan di kawasan Perumnas.

Memang, pembangunan fisik seperti ini bukan semata kerja seorang Walikota. Selain swasta, banyak juga peranan dari Pemerintah Provinsi (Gubernur). Seperti awal pembangunan jembatan Musi II pada masa Cholil Aziz merupakan kerjasama dengan Gubernur Sainan Sagiman. Jembatan Musi II sendiri baru selesai pengerjaan pada masa kepemimpinan Drs H Husni (1993-2003).

“Salah satu terobosan zaman pak Cholil Aziz adalah rencana induk Palembang yang sekarang namanya Tata Ruang (Master Plan). Kalau ada Tata Ruang berarti ada guiding (petunjuk) pembangunan, berarti sudah ada perencanaan pembangunan matang,” ungkap Murod.

Masa kepemimpinan H Husni beberapa catatan penting ditorehkan. Seingat Murod, Rencana Induk Palembang pada masa Cholil Aziz direvisi menjadi Rencanan Tata Ruang Wilayah Kota. Pasar 16 Ilir yang sempat terbakar juga kembali dibangun pada masa H Husni. Terakhir kemegahan Stadion Gelora Jakabaring tak lepas dari peran reklamasi (penimbunan) pada masa H Husni dengan Gubernur H Ramli Hasan Basri. Stadion yang kini menjadi stadion kebanggan wong kito, selesai pada masa kepemimpinan Ir Eddy Santana bersama Ir Syahrial Oesman.

Keberhasilan signifikan Walikota Palembang dalam pandangan Murod serta Anwar Rifa’i ditorehkan Eddy Santana Putra (2003-sekarang). Eddy dinilai dua akademisi ini menorehkan catatan emas. Terobosan besar tentu saja pembangunan Benteng Kuto Besak (BKB) yang kini menjadi tempat hiburan bagi keluarga, wisatawan serta event besar lainya. Meski telah dicanangkan sejak zaman H Husni, keberhasilan Eddy Santana menyulap kawasan BKB yang dulunya pasar becek dan kumuh menjadi tempat hang out merupakan suatu keberhasilan tersendiri.

Pengembangan Puskesmas swakelola, naiknya RSUD Bari dari RS type C ke B, jangkauan PDAM yang hampir menyentuh seluruh sudut kota, pembangunan Rusunawa di Kasnariansyah, beroperasinya Bus Trans Musi, masuknya gas kota yang murah bagi masyarakat, pembangunan gedung DPRD yang megah, tertatanya kawasan Kambang Iwak (KI), hingga diraihnya Piala Adipura empat kali berturut-turut menunjukan Palembang sebagai kota metropolitan yang bersih terjadi dibawah kepemimpinan Eddy Santana. Dalam kacamata Anwar Rifa’i sendiri, julukan Kota Metropolitan atau Metropolis bagi Palembang juga terjadi pada masa Eddy Santana.

Kawasan Seberang Ulu yang sering dinilai tertinggal kini pun menjadi perhatian. Selain stadion, Bank Sumsel, Islamic Center, wisma atlit, water boom bakal dibangun di kawasan Jakabaring. “Bersama dengan Gubernur, zaman pak Eddy, kawasan Seberang Ulu sudah mulai diperhatikan,” urai Murod.

Namun, Eddy bukanya tanpa celah. Hingga kini, masalah banjir yang sering menyerang Palembang sejak dulu belum terpecahkan. Masalah pembangunan jalan lingkungan pun ikut disoroti. “Penanganan banjir sudah dilaksanakan, tapi belum maksimal. Masih banyak titik-titik banjir. Termasuk jalan lingkungan. Sudah dilaksanakan pengecoran, tapi belum maksimal juga,” tandas Murod. (wwn)

Sumber: Sumeks Minggu

Minggu, 06 Januari 2013

Kumpulan kata Mutiara Penuh makna

Kumpulan kata Mutiara Penuh makna

Orang yang sempurna imannya tidak akan meninggalkan suatu amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, sekalipun terdapat ribuan alasan untuk meninggalkannya
(Sayyid Abdullah Al-Hadddad, Mujahid Sufi Abad ke 17)

Tidak ada jaminan kesuksesan, namun tidak mencobanya adalah jaminan kegagalan
(Bill Clinton, Mantan Presiden Amerika Serikat)

Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat sesuatu kebaikan, maka jaminannya ia tidak akan bertemu dengan kemajuan selangkah pun.
(Bung Karno, Presiden RI Pertama)

Bekerja keras sekarang, merasakan hasilnya nanti. Bermalas-malas sekarang, merasakan akibatnya nanti
(John C Maxwell, Motivator dan Penulis asal AS)

Kehidupan adalah hadiah utaman, cinta adalah hadiah kedua, dan pengertian adalah hadiah ketiga
(Marge Piercy, Novelis dan Penuis Esay)

Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan
(Frederick E Crane, pengacara dan Politikus Amerika)

Jika ingin bahagia, jangan memiliki keinginan terlalu tinggi. Banyak orang yang sukses dengan harta dan jabatan, tapi tidak bahagia
(Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN)

Musisi harus menciptakan musik. Pelukis harus menggoreskan lukisannya. Penyair harus menuliskan sajaknya. Mereka harus melakukannya agar mencapai puncak kedamaian dalam diri mereka sendiri. Seseorang harus menjadi apa yang mereka jadi
(Abraham Maslow, Teoretikus dan Psikolog asal AS)

Saat berbicara mode, berenanglah mengikuti arus. Saat berbicara prinsip, tegarlah seperti batu karang
(Thomas Jefferson, Author Researcher Expert)

Jangan mencari kawan yang membuat Anda merasa nyaman, tetapi carilah kawan yang memaksa Anda terus berkembang
(Thomas J Watson, CEO of International Business Machines {IMB})

Perbaharuilah hidupmu, jadikan lebih variatif, dan ubahlah rutinitas yang membuat jenuh
(Dr 'Aidh Al-Qarni, Ulama Terkemuka)

Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan; tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa, dan tidak memjadi apa-apa
(Denis Waitley, Motivator dan Penulis asal AS)

Sabtu, 05 Januari 2013

Waktu Utama buat Berdoa

Waktu Utama buat Berdoa

PALEMBANG -- Sudah menjadi tradisi, saat menyambut perayaan Imlek, warga Tionghoa, khususnya umat Tridharma melakukan ritual sembahyang, bersih-bersih rumah sebagai penghormatan kepada dewa Cau Kun Kong.

"Dewa Cau Kun Kong atau dewa dapur bertugas mencatat baik dan buruknya perbuatan manusia di rumah tersebut dalam satu tahun," ujar Wakil Ketua Majelis Rohaniawan Tridharma Indonesia (Matrisia) Komisariat Sumatera Selatan (Sumsel), Tjik harun, kemarin.

Biasanya, kata Tjik Harun, ritual bersih-bersih rumah diadakan pada 24 bulan 12 atau seminggu menjelang perayaan Imlek dengan harapan dewa tersebut melaporkan perbuatan yang baik dilakukan manusia.

Pada riual tersebut, terang Harun, umat Tridharma memberikan persembahan makanan berupa makanan yang manis dan lengket, seperti aneka dodol dengan harapan segala sesuatu yang manis yang didapat di tahun ini akan terus lengket dan tetap diberikan di tahun depan. Bukan hanya di rumah, di setiap vihara dan kelenteng pun biasanya ada kegiatan ritual dengan membersihkan meja altar dan akan memasang lampu lampion di lingkungannya.

Dalam melakukan ritual sembahyang tersebut, masing-masing warga Tionghoa, khususnya Tridharma memohon kepada dewa baik doa agar diberikan rezeki serta berkah di tahun berikutnya dan umurnya panjang, serta jauh dari bencana. "Semua doa yang ditujukan kepada dewa tergantung dengan masing-masing individu, sehingga merupakan waktu yang utama buat berdoa, memohon sesuatu keinginan mereka (umat Tridharma, red)," tutup Harun. (wia/vin/ce2)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 4 Januari 2013
Waktu Utama buat BerdoaWaktu Utama buat Berdoa
Waktu Utama buat Berdoa

Tak Hanya Simbol, Memiliki Makna

Tak Hanya Simbol, Memiliki Makna

PALEMBANG -- Menjelak perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa mulai mempercantik kediamannya dengan memasang aneka pernak-pernik Imlek seperti lampion merah, bunga persik, dupa bahkan mercon. Pernak-pernik tersebut ternyata bukan hanya simbol, tapi mempunyai makna tertentu.

Ahli fengsui asal Sumsel, Candra Wijaya Pasadenah mengatakan, lampion merah merupakan lampu yang terbuat dari kertas berwarna merah menyala melambangkan bahagia dan meriah. "Bukan hanya sebagai simbol namun bentuknya yang cantik dan unik membuat suasana Imlek semakin meriah," ujarnya.

Sedangkan bunga persik (meihua) yang merupakan buah khas dari Negeri Tirai Bambu melambangkan keteguhan dan ketahanan terhadap ujian bagi warga Tiognhoa. "Bunga teratai air ini bisa juga dimanfaatkan untuk menambah cantiknya suasana di Hari Raya Imlek," terangnya.

Selain itu, bunga persik dipercaya juga membuang nasib sial yang akan datang di tahun selanjutnya. Pernak-pernik yang juga biasa ada saat Imlek adalah bambu yang melambangkan keselamatan dan rendah hati.

"Untuk lebih memeriahkan perayaan Imlek, warga Tionghoa juga menggunakan mercon karena dipercaya melambangkan bahwa di tahun mendatang akan ada yang meledak rezekinya," jelas Candra. Kemudian ada dupa sebagai peralatan sembahyang kepada dewa-dewa yang disembah. Dikatakan, dupa atau yang biasa disebut hio sebenarnya adalah medium unutk melakukan ssembahyang atau bagian dari peralatan sembahyang, tidak mempunyai arti khusus dan makna khusus di dalamnya.

"hio digunakan karena simbolisasi juga, karena asapnya membumbung ke atas dan disimbolkan sebagai satu macam pendekatan dengan dewa-dewa di atas sana," urai dia. Untuk menaknainya, hio yang wangi yakni sebagai penyucian batin dan lingkungan. (wia/vin/ce2)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 4 Januari 2013

Kamis, 03 Januari 2013

Ba Xian (Delapan Dewa)

Ba Xian (Delapan Dewa)

Ba Xian [Delapan Dewa / Pat Shien] adalah Dewa-Dewi Tao yang hidup pada masa yang berbeda dan dapat mencapai kekekalan hidup. Mereka sering dilukiskan pada benda-benda porselen, patung, sulaman, lukisan dan sebagainya.

Dewa-Dewi Ba Xian menggambarkan kehidupan yang berbeda, yaitu Kemiskinan, Kekayaan, Kebangsawanan, Kejelataan, Kaum Tua, Kaum Muda, Kejantanan dan Kewanitaan.

Ba Xian dihormati dan dipuja karena menunjukkan kebahagiaan.

Kisah Ba Xian menunjukkan bahwa kita dapat mencapai kehidupan abadi dalam kebahagiaan, melalui tindakan-tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Zhongli Quan
Memiliki nama keluarga Zhongli dan hidup pada masa Dinasti Han, karena itu ia juga dikenal sebagai Han Zhongli. Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam kerajaan pada masa Dinasti Han. Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan mendalami ajaran Tao.

Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan.

Zhang Guolao
Zhang Guolao adalah kepala akademi kerajaan, namun dia mengundurkan diri untuk menjadi petapa di Gunung Chuang Tiao di Shanxi.

Memiliki keledai ajaib yang dapat membawa dirinya berjalan ribuan kilometer setiap hari. Ketika mencapai tujuan, dia mengubah keledai tersebut menjadi kertas dan Zhang Guolao melipatnya untuk dimasukkan dalam sakunya. Untuk menghidupkannya dia membuka lipatan tersebut dan meniupnya.

Kaisar Tang Ming Huang ingin mengangkat Zhang Guolao bekerja di istana, tetapi dia tidak bersedia meninggalkan kehidupan pengembaraannya. Setelah dua kali menghadap kaisar, pertapa ini pun menghilang entah kemana.

Sering digambarkan sedang menunggangi keledai secara terbalik. Simbolnya adalah tempat ikan yang terdiri dari batang bambu dengan tabung kecil yang muncul di ujungnya. Ia dipuja sebagai pembawa keturunan laki-laki.

Lu Dongbin
Seorang sastrawan dan petapa yang mempelajari Tao dari Zhongli Quan. Di tangan kanannya sering membawa kebutan suci pendeta Tao. Simbol Lu Dongbin adalah pedang Pembunuh Roh Jahat dan dengan gerakan terbang yang cepat.

Sebelum mempelajari Tao, Lu Dongbin diuji dengan berbagai ujian berat oleh Zhongli Quan, yang berhasil diatasi semuanya.

Lu Dongbin dapat dikatakan sebagai salah satu Dewa yang paling tersohor dari Delapan Dewa. Ia dianggap sebagai penolong orang miskin dan pembasmi roh-roh jahat.

Li Tieguai
Memiliki nama asli Li Xuan dan hidup pada masa Dinasti Sui. Dia melambangkan cacat dan keburukan. Dia berusaha untuk meringankan beban penderitaan umat manusia. Li Tieguai memiliki sebuah tongkat besi dan bermuka hitam. Dia membawa sebuah labu yang digunakannya untuk menolong umat manusia.

Suatu hari, ketika rohnya pergi ke Huashan, dia memberitahukan muridnya, Lang Ling, untuk menjaga badannya dan membakarnya apabila dia tidak kembali dalam tujuh hari.

Dalam hari ke enam, Lang Ling mendapat kabar bahwa ibunya sakit keras dan sebagai seorang anak dia harus merawat ibunya. Maka dia membakar badan tersebut satu hari lebih awal.

Ketika roh Li Tieguai kembali keesokan harinya, dia tidak dapat menemukan badannya sehingga dia memasuki badan seorang tua yang baru saja meninggal.

Namun, orang tua tersebut ternyata cacat. Pada saat pertama, Li ingin meninggalkan badan tersebut, tetapi Lao Zi / Lao Tze membujuknya dengan mengatakan bahwa penerapan dari ajaran Tao tidak tergantung penampilan. Lao Zi lalu memberi tongkat besi kepada Li Tieguai. Li Tieguai kadang digambarkan sedang berdiri di atas kepiting atau ditemani seekor menjangan.

Cao Guojiu
Hidup pada masa Dinasti Song dan merupakan putra dari Cao Bin, seorang komandan militer, dan saudara laki-laki dari Ratu Cao Hou, ibu dari Kaisar Yin Zong.

Cao Guojiu digambarkan memakai jubah kebesaran dan topi pengadilan. Di tangannya ada kertas catatan kerajaan dan sepasang alat musik kastanyet.

Suatu hari Zhong Li Quan dan Lu Dong Bin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao.

"Apakah itu dan dimanakah itu?", mereka balik bertanya. Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian ke hatinya.

Lan Caihe
Sering ditampilkan berpakaian biru dengan tidak bersepatu.

Sambil melambai-lambaikan sepasang tongkat, ia mengemis sepanjang jalan. Lan Caihe terus menerus membacakan syair-syair yang menggambarkan kehidupan yang tidak kekal beserta kesenangan-kesenangan yang hampa.

Ia berkelana ke seluruh negeri sambil menyanyi dan membawa keranjang bunga. Lan Caihe terkadang terlihat seperti wanita.

Han Xiangzi
Han Xiangzi melambangkan masa muda. Dia adalah keponakan dari Han Yu, seorang menteri pada pemerintahan Kaisar Hsing Tung dari Dinasti Tang. Simbolnya adalah sebuah suling. Seorang pecinta kesunyian, mewakili orang ideal yang senang tinggal di tempat alamiah.

Han Xiangzi sering menyusuri desa sambil meniup seruling dengan merdu sehingga menarik perhatian burung-burung dan binatang lainnya. Han Xiangzi tidak mengenal nilai uang dan bila diberi uang akan dia sebarkan di tanah.

He Xiangu
Satu-satunya wanita diantara Delapan Dewa.

Berpenampilan halus dan lemah lembut, dan sering terlihat membawa bunga teratai yang dapat dipakai untuk mengobati orang sakit.

Kadang-kadang dia digambarkan berada di atas kelopak teratai yang terapung sambil memegang pengusir lalat.

Mi Le Fo/Maitreya

Mi Le Fo/Maitreya
Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta. Menurut uraian yang bersifat tradisional, beliau akan mencapai tingkat ke-Buddhaannya ketika beliau sedang berada di bawah Pohon Jambudvipa, setelah Hyang Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan agungnya yang sempurna.

Demikianlah, kemudian Beliau akan dinamakan Buddha Maiteya. Dikatakan pula, bahwa beliau akan menggantikan Buddha Sakyamuni, setelah hidup di Surga Tusita untuk keseluruhan hidupnya. Beliau juga dinamai Bodhisattva yang siap untuk mengisi posisi yang kosong untuk keseluruhan kehidupan yang ditetapkan

Bodhisattva Maitreya menjadi tokoh utama di bidang Buddha Dhamma, dan mendiami bagian dalam istana di Surga Tusita. Sampai 567 juta tahun, Beliau akan turun ke dunia, dan mencapai ke-Buddhaannya di bawah Pohon Bunga Ular Naga yang tumbuh di taman bunga.

Kemudian akan ada 3 (tiga) Perhimpunan Dharma atau Dewan Dharma yang akan Beliau bentuk. Dan Dewan-Dewan Dharma itu akan dinamai Tiga Dewan Dharma di Bawah Pohon Bunga Ular Naga. Menurut kitab suci agama Buddha yang dinamai Sutra Ekottara-Agama, jumlah dari makhluk - makhluk hidup yang mengalami penderitaan, yang akan diselamatkan, dapat diseberangkan hingga tiba di Pantai Nirvana dengan selamat, yang jumlahnya tidak terhitung.

Pada Dewan Dharma yang pertama, jumlah makhluk yang dapat diselamatkan akan berjumlah 960 juta. Sedangkan pada Dewan Dharma kedua, sebanyak 940 juta. Pada Dewan Dharma yang ketiga, yang dapat diselamatkan akan berjumlah 920 juta orang.

Selama periode waktu melaksanakan pembinaan diri menjalankan Jalan ke-Bodhisattva-an-nya itu, Bodhisattva Maitreya akan melaksanakan cara pembinaan terhadap orang - orang lain sesuai cara Beliau sendiri. Yaitu Beliau tidak menggaris bawahi pentingnya meditasi, maupun latihan spiritual dengan menyakiti badan dalam usahanya untuk melenyapkan atau membebaskan diri dari penderitaan.

Tetapi Beliau menggaris bawahi pentingnya pelaksanaan berdana, beramalbhakti, bersemangat tinggi dalam mengejar kemajuan spiritual, berwatak cinta kasih dan welas asih serta bersifat bijaksana. Cara pembinaan diri yang dilakukan oleh Bodhisattva Maitreya ini, berbeda dengan cara yang dianut oleh para Sravaka.

Para Sravaka mengambil cara bertapa brata, menyakiti badannya dalam usahanya untuk membebaskan diri dari penderitaan, dan agar memperoleh ijazah atau hak masuk ke tahap Nirvana.

Bodhisattva Maitreya secara sengaja membiarkan diri Beliau terkena apa yang dinamakan illusi (terkena pandangan yang tidak seperti apa adanya, atau keadaan - keadaan yang bersifat tidak sejati), sehingga tetap dapat berada di lingkungan makhluk - makhluk yang menderita dan dapat menyelamatkannya.

Terdapat cerita mengenai reinkarnasi dari Bodhisattva tersebut, Di bagian akhir dari zaman Dynasti Tang, hidup seorang pertapa yang bernama Pu Tai ( yang artinya orang yang membawa tas terbuat dari kain ), yang telah menyebarluaskan Buddha Dharma sepanjang hidupnya.

Setelah sang pendeta tersebut wafat , Beliau meninggalkan syair yang berbunyi sebagai berikut : "Maitreya tetap bersifat Maitreya yang sejati. Dia manifes, mengejawantah, menjelma ke dunia, menjadi jutaan badan-badan yang telah mengalami perubahan wujud dari wujudnya yang semula. Sepanjang keseluruhan waktunya , dia telah manifes di hadapan makhluk-makhluk hidup yang tidak mengenal siapa sebenarnya yang ada dihadapannya itu".

Umat Buddha yang mempercayai Sang Pendeta yang telah mencapai Nirvana tersebut, setelah zaman Dynasti Tang memuja Sang Pendeta sebagai wujud atau diri Bodhisattva Maitreya yang telah mengambil tubuh yang mengalami perubahan. Kebanyakan lukisan-lukisan mengenai Bodhisattva Maitreya itu dilukiskan berdasarkan penampakan atau meniru tubuh Pendeta Pu Tai itu.

Sam Cun Tay Hud/Sam Po Hut

Sam Cun Tay Hud/Sam Po Hut

Sam Cun Tay Hud atau Sam Po Hut adalah Tri Buddha yang juga dikenal dengan sebutan Tri Kaya, Tri Loka dan Tri Ratna (Tiga Mestika). Mereka terdiri dari: Buddha Sakyamuni (Se Cia Mo Ni Fo), Buddha Bhaisajyaguru (Yao Shi Fo) & Buddha Amitabha (Amitofo).

Buddha Sakyamuni (623 - 543 SM) berayahkan seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maha Maya yang berhati suci dan luhur. Sebelum melahirkan, Dewi Maha Maya bermimpi didatangi seekor gajah putih mempersembahkan setangkai teratai. Disaat lahir Beliau disambut sebagai Maha Bhodisatva. Empat Maha Brahma (Dewata) menerima sang bayi dengan jalan emas, dan dari angkasa turun air dingin serta air panas. Dari bumi muncul bejana emas untuk memandikan sang bayi. Di udara terdengar alunan suara yang merdu, burung2 berkicauan dan bunga bermekaran.

Kemudian bayi Maha Bhodisatva melangkah 7 kali, dari ke 7 pijakan muncul bunga teratai merah kuning emas disertai gempa bumi dan bunga2 mandarava turun bertebaran dari angkasa yang disebarkan oleh para raja naga. Kisah kelahirannya ini tercatat dalam kitab Sakyamuni Buddha. Arca (Kim Sin) nya terlihat Beliau memegang bola dunia sebagai lambang abadi sepanjang masa.

Buddha Bhaisajyaguru (Buddha Guru Pengobatan) adalah Buddha masa lalu sebelum Buddha Sakyamuni mencapai Pencerahan. Dikatakan Beliau adalah Buddha dari Alam Timur, khusus memberi berkah penyembuhan dari penyakit, mencegah bencana serta panjang umur. Arca (Kim Sin) nya serupa dengan Buddha Sakyamuni namun Buddha Baisajyaguru terlihat memegang mangkok/Patra/Pagoda. Nama lengkapnya adalah Yok Su Lin Li Kong Hud.

Buddha Amitabha (O Mi To Hud) juga Buddha dari masa lalu. Beliau bermukim di Alam Barat (See Hong Kek Lok See Kay) yang merupakan tanah suci bagi kaum Budhis. Nama Beliau selalu diucapkan dalam kesempatan apapun karena umatnya percaya kepada janjinya yang akan membawa roh2 yang berjodoh ke Alam Barat.Buddha Amitabha, Koan Im Pho Sat dan Tay Si Ci Pho Sat bertiga terkenal dengan sebutan See Hong Sam Seng (Tri Suci dari Alam Barat).

Tahun Start Kode Etik Guru

Tahun Start Kode Etik Guru
Oleh: Ki Supriyoko

Sejarah pendidikan nasional kita akan mencatat tahun 2013 ini sebagai tahun kode etik guru. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi profesi guru terbesar di Indonsia bertekad menjalankan kode etik profesi mulai 2013 ini. Mengikat diri dengan kode etik merupakan salah satu ciri profesionalitas.

Harus diakui, PGRI bukan satu-satunya organisasi guru di Indonesia. Di luar PGRI, masih terdapat belasan bahkan puluhan organisasi guru. Sebut saja, Ikatan Guru Indonesia (IGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Serikat Guru Seluruh Indonesia (SGSI), dan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI).

Meski terdapat banyak organisasi guru, belum ada satu pun yang sudah menjalankan kode etik profesi. Jadi, kalau PGRI memulai menjalankan kode etik profesi pada 2013 ini, nama mereka pasti akan tercatat dalam sejarah pendidikan nasional kita.

Kewajiban Undang-Undang
Apakah dijalankannya kode etik profesi oleh PGRI itu mendapat dukungan pemerintah? Setahu saya, PGRI tidak pernah "merengek-rengek" meminta dukungan pemerintah. Sebab, menjalankan kode etik bagi anggota menjadi hak PGRI itu sendiri.

Namun, saya percaya, sebagai organisasi santun, PGRI tentu sudah berkoodinasi dengan pemerintah dalam menjalankan kode etik bagi anggotanya. Di luar itu, menjalankan kode etik sejalan dengan ketentuan perundangan, yaitu UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Dalam pasal 43 ayat (1) dinyatakan, untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan serta martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan, organisasi profesi guru membentuk kode etik (profesi).

Dalam ayat (2) dinyatakan, kode etik berisi norma dan etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan. Kode Etik Guru Indonesia yang dibentuk PGRI terdapat atas 6 bagian dan 11 pasal (www.pgri.or.id/kode-etik/organisasi/kode-etik/kode-etik-guru-indonesia). Kode etik itu secara keseluruhan mengatur hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan guru untuk menjaga keprofesionalan dalam menjalankan tugas profesinya.

Di dalam Kode Etik Guru Indonesia, diatur jelas bagaimana seharusnya hubungan yang dilakukan guru dengan tujuh unsur yang secara langsung terkait dengan profesi mereka.

Adapun tujuh hubungan yang dimaksud itu adalah hubungan guru dengan (1) peserta didik, (2) orang tua atau wali murid, (3) masyarakat, (4) sekolah dan rekan sejawat, (5) profesi, (6) organisasi profesinya, dan (7) pemerintah. Asumsinya, bila setiap guru bisa menjaga hubungan dengan tujuh unsur tersebut secara profesional, keprofesionalan guru bisa dipertahankan, bahkan dikembangkan.

Ambil contoh hubungan dengan peserta didik pada pasal 6 ayat (1) butir d yang menyebutkan, guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk kepentingan proses kependidikan. Seandainya guru menjalankan ketentuan tersebut, hasilnya akan optimal.

Yakni, guru mencari informasi mengenai kemampuan dasar masing-masing peserta didik untuk menerima pembelajaran, siapa saja yang kemampuannya rendah, kemampuannya sedang, dan kemampuannya tinggi. Selanjutnya, memberikan pelayanan pembelajaran yang profesional menurut kemampuan dasar siswa.

Kualitas Pendidikan
Bahwa dijalankannya Kode Etik Guru Indonesia untuk menjaga keprofesionalan guru kiranya tidak terbantahkan. Hal itu sama dengan dijalankannya Kode Etik Advokat Indonesia untuk menjaga keprofesionalan pengacara, Kode Etik Kedokteran Indonesia untuk menjaga keprofesionalan dokter, dan sebagainya.

Jumlah guru di Indonesia sekrang mencapai 2,9 juta orang. Kalau mereka mau menjalankan kode etik, keprofesionalan guru akan terjaga yang ujung-ujungnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan pendidikan nasional. Peningkatan kualitas pendidikan sudah tentu tidak bisa terjadi secara instan. Sebab, menjalankan kode etik guru juga tidak bisa secara "cepat saji".

Namun, perlu dimulai dari tahap sosialisasi yang juga memerlukan waktu tidak pendek. Mengingat, sebagian guru di Indonesia tinggal di daerah "remote" (pelosok) dengan teknologi informasi yang belum memadai. Kualitas pendidikan bukan hanya tanggung jawab PGRI, tapi tanggung jawab kita semua.

Artinya, sebenarnya keberhasilan dijalankannya kode etik guru bukan menjadi tanggung jawab PGRI saja, tapi tanggung jawab kita semua. Salah satu peran intinya ada pada guru (*)

Ki Supriyoko
--------------------------------------------------------
Guru besar, wakil presiden Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE)
yang bermarkas di Tokyo, Jepang (kisupriyoko@yahoo.co.id)



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sumatera Ekspres, Kamis, 3 Januari 2013

Metode Pembelajaran Modern PAI

Metode Pembelajaran Modern PAI

Oleh: Khoirawati
------------------------------
Guru SMKN 1 Kota Pagaralam Sumsel dan Kandidat Doktor dalam Bidang Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Pengetahuan itu bak alam tak bertepi. Semua orang bisa mendapatkan pengetahuan di mana pun dia berada, misalnya siswa yang sedang menempuh pendidikannya di sekolah menengah kejuruan. Salah satu matapelajaran di sekolah menengah kejuruan adalah Pendidikan Agama Islam (PAI). PAI mempunyai peranan yang sangat siknifikan dalam pembentukan moral, akhlak dan etika siswa.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Pendidikan agama memilki posisi sangat strategis dalam sistem perundang-undangan guna terwujudnya manusia Indonesia yang beriman, dan berakhlak mulia.

Secara mendasar, menurut UUD 1945 pasal 31 ayat (3) disebutkan bahwa "pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan UU."

Sejalan dengan itu, tujuan yang dirumuskan dalam rangka penyelenggaraan Pendidikan Agama Islam adalah untuk mengembangkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia. Tugas mulia itu menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya sekolah menengah kejuruan (SMK).

Seperti dituangkan dalam permendiknas No 22/2006 tentan "Standar Isi". Salah satunya berisi materi PAI tentang sejarah perkembangan Islam di Dunia yang diperoleh melalui proses pembelajaran berupa proses interaksi antara siswa dan sumber belajar untuk mencapai perubahan tingkah laku tertentu.

Sumber belajar itu dapat bersumber dari guru atau media pembelajaran, sedangkan perubahan perilaku dapat berbentuk penambahan pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap perilaku siswa.

Salah satu subsistem dalam pembaelajaran di kelas adalah ketersediaan bahan pembelajaran dan metode pembelajaran. Bahan pelajaran adalah bahan tercetak dan bahan non-tercetak yang tersusun sistematis yang di dalamnya terdapat materi informasi pembelajaran.

Materi ini diharapakan dapat membantu siswa/guru dalam mencapai tujuan pembelajaran sesuai standar kompetensi yang sudah ditetapkan pemerintah. Di dalamnya terdapat materi atau informasi pembelajaran yang disajikan secara sistematik berdasarkan prinsip belajar dan pembelajaran.

Selain buku atau bahan tercetak, bahan pembelajaran dapat berupa CD pembelajaran, materi online, materi siaran televisi, materi siaran radio, atau bahkan kombinasi dari berbagai bentuk bahan materi tersebut.

Bila dilihat dari cara penyajian isinya, bahan pembelajaran dapat menggunakan metode atau pendekatan tertentu. Nah, yang dimaksud dengan metode pembelajaran adalah cara guru dalam menyampaikan materi pembelajarannya. Namun sayangnya bahan pembelajaran buku teks untuk SMK, terutama untuk matapelajaran PAI masih terbatas. Keterbatasan ini bukan hanya dari sisi jumlah tetapi juga dari aspek kualitas yang belum memenuhi standar.

Bahkan meteri sejarah perkembangan Islam di dunia yang merupakan bagian dari isi buku teks PAI (kelas XII) ternyata masih berada pada urutan terakhir di dalam buku teks. Akibatnya materi PAI seringkali terabaikan. Hal ini disebabkan materinya yang cukup banyak dan waktu untuk mempelajarinya yang terbatas hingga akhir semester.

Berdasarkan pengalaman penulis, pengemasan guru dalam menyampaikan materi belum membawa siswa ke arah pembelajaran aktif, kreatif dan menyenangkan. Untuk itu guru harus kaya dengan metode mengajar yang bervariasi dari waktu ke waktu. Tujuannya agar siswa tidak merasa bosan dan siswa bisa aktif, kreatif dan senang selama mengikuti pelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Metode pembelajaran atau metode mengajar acapkali disebut juga sebagai pendekatan pembelajaran atau model pembelajaran, dengan makna yang hampir sama. Sebagian pakar mengartikan pendekatan tersebut sebagai gabungan dari beberapa metode, sedangkan model pembelajaran lebih luas dari keduanya karena mencakup pula langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran.

Langkah-langkah tersebut dikenal dengan istilah sintaks. Metode pembelajaran lama akan menyebabkan kejenuhan belajar bagi siswa, penggunaan waktu belajar yang tidak efektif dan sulitnya menerapkan konsep-konsep ilmu dan pengetahuan kepada siswa menyebabkan kurang tercapainya tujuan pembelajaran yang maksimal. Oleh karena itu penulis memperkenalkan sebuah metode pembelajaran modern yaitu metode transaksi informasi untuk PAI pada aspek sejarah, contohnya sejarah perkembangan Islam di dunia.

Transaksi informasi yang dimaksud di sini adalah strategi mengajar dengan menggunakan trik atau taktik mengajar yang mengondisikan suasana belajar di ruang kelas, seperti pasar yang di dalammnya terdapat perdagangan informasi. Informasi yang menjadi bahan transaksi adalah materi Pendidikan Agama Islam pada aspek Sejarah Perkembangan Islam di Dunia.

Sintaks (langkah-langkah/tahap) dalam metode transaksi informasi ini adalah:

Tahap 1 persiapan; yaitu menyediakan data: Pada tahap ini siswa diminta untuk menyiapkan segala kebutuhan yang menyangkut materi pembelajaran. Seperti; menyiapkan materi yang akan dipelajari, menyiapkan segala atribut yang diperlukan untuk berlangsungnya kegiatan belajar, dan guru mengarahkan siswa untuk menata meja menjadi stand-stand atau mengkondisikan kelas menjadi seperti pasar.

Tahap 2 kegiatan awal; Berdoa, appersepsi, dan motivasi. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah guru membuka kegiatan pembelajaran, guru menunjukkan kepada siswa tujuan pembelajaran yang akan dicapai, guru menampilkan tes.

Tahap 3 kegiatan inti 1: Menata Stand. Kegiatan inti 1 meliputi; guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, jika siswa berjumlah 20 orang, maka masing-masing kartu tertulis 20 nama negara. Tiap kelompok menuliskan mana kelompoknya menjadi nama stand. Tiap kelompok mengubah materinya masing-masing ke dalam tampilan visual.

Kelompok dianjurkan menggunakan sebanyak mungkin angka, diagram, simbol, gambar, grafik, kartun, sketsa dan huruf inisial, tetapi tidak lebih dari sepuluh kata.

Tahap 4 Kegiatan inti 2: Transaksi Informasi. Kegiatan inti 2 ini meliputi; guru memotivasi siswa agar masing-masing kelompok harus berhasil dalam tes pada akhir pembelajaran nanti. Dalam persiapan, tiap kelompok harus menentukan siapa salah satu anggotanya yang akan tinggal dan menjadi "penjaga stand."

Anggota lainnya pergi ke luar ke "pasar" untuk mengumpulkan informasi. Tahap 5 Kegiatan Inti 3: Konfirmasi. Kegiatan inti 3 meliputi; semua kembali ke home base. Mereka yang pergi ke pasar untuk meneliti informasi sekarang bergantian mengajarkan apa yang telah mereka ketahui.

Siswa dapat kembali untuk melihat poster atau mengajukan pertanyaan cepat untuk mengecek detail. Tahap 6 Kegiatan Inti 4: Evaluasi. Kegiata inti 4 meliputi; pelaksanaan tes yang dilakukan di bawah kondisi ujian, secara individu dan dengan tenang.

Tahap 7 Kegiatan Akhir; sebelum guru membahas tes, siswa diajak relaksasi dengan bernyanyi bersama-sama dengan guru. Akhirnya, guru membahas tes, dengan memperhatikan pertanyaan yang pada umumnya dianggap sulit oleh kelompok.

Untuk tiap pertanyaan sulit ini guru minta sukarelawan mencoba menjawabnya. Kemudian, sebagai usaha terakhir, guru mengajar. Guru mengajar dengan menggunakan alat bantu pembelajaran. Dengan cara ini celah diisi lubang disumbat. Kemudian diakhir pembelajaran guru mengajak siswa untuk mendengarkan sebuah kisah/cerita.

Metode pembelajaran atau metode mengajar ini didesain dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran sehingga materi yang ada di dalamnya ertata secara sistematik, seperti sistematika kegiatan orang yang yang sedang mengajar. Metode transaksi informasi ini dikembangkan dalam rangka memicu daya pikir siswa SMK untuk mengembangkan kreativitasnya.

Antara lain, siswa diarahkan untuk membuat atribut-atribut pembelajaran seperti menggambar peta benua 5 benua, membuat simbol-simbol tahun sejarah perkembangan Islam di dunia, gambar tokoh Islam gambar masjid, membuat miniatur, membuat frame dari kayu atau bambu, dan masih banyak lagi atribut lain yang bisa mengembangkan daya pikir mereka.

Metode transaksi informasi ini juga memerlukan tata ruang khusus, yaitu kelas yang ditata seperti layaknya pasar. Partikular (elemen) yang terdapat di dalam aktivitas ini transaksi informasi ini adalah kerja individu, kerja kelompok, bergerak, berbicara, mendengarkan, membaca, menulis dan melihat.

Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dalam segala bidang, khususnya mutu pendidikan dan pengembangan potensi sumber daya seperti program yang dicanangkan. Beasiswa Unggulan Tingkat Nasional dan Internasional sejak tahun 2006. Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional, maka perlu diciptakan metode pembelajaran ini dan melalui program penelitian sekaligus dikembangkan bahan pembelajaran berbasiskan metode tersebut. Penelitian dan pengembangan (research and development) tersebut akan dilakukan melalui dukungan Beasiswa Unggulan (BU) Tingkat Nasional. (*/ce3)

Sumatera Ekspres, Senin, 24 Desember 2012