Sabtu, 29 Desember 2012

Ustaz-Ustazah Dapat Dana Operasional

Ustaz-Ustazah Dapat Dana Operasional

PALEMBANG - Sebanyak 1.500 ustaz dan ustazah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mendapatkan dana operasional dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Penyerahan bantuan dipusatkan di Gedung Diklat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), kemarin.

Asisten IV Bidang Administrasi dan Umum Setda Sumsel, Samuil Khotib mengatakan, bantuan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyejahterakan para ustaz dan ustazah di Sumsel. Kegiatan ini merupakan program rutin pemerintah. “Tahun ini, ada 1.500 ustaz dan ustazah yang menerima bantuan dana operasional. Besarnya Rp 1,2 juta/orang yang akan diberikan per tahun,” katanya usai memberikan bantuan dana operasional ustaz dan ustazah, dan membuka pelatihan Lembaga Pembina serta Pengembangan TK Al-Qur'an (LPPTKA).

Menurutnya, tahun ini dana yang dianggarkan Rp3 miliar untuk bantuan dana operasional ustaz dan ustazah serta masjid di Sumsel. Angka tersebut memang belum mampu men-cover seluruh ustaz dan ustazah yang berjumlah 26 ribu. Pasalnya, terkendala pada anggaran yang sangat terbatas.

“Kami berharap, bantuan ini dapat memacu kinerja para ustaz dan ustazah dalam memberikan pelajaran agama kepada anak-anak. Sehingga mampu terbebas dari buta baca tulis Al-Qur'an.

Sementara itu, Ketua Umum DPW BKPRMI Sumsel, Alhanan Nasir Syukri, menambahkan, saat ini terdapat 9.000 TK dan TPA di Provinsi Sumsel yang diasuh oleh 29.423 ustaz dan ustazah. “Tahun ini, ada 1.500 ustaz dan ustazah yang mendapatkan bantuan dana operasional. Khusus untuk di Kota Palembang, yang dapat sebanyak 330 ustaz dan ustazah,” kata dia.

Ia menambahkan, masih banyaknya ustaz dan ustazah yang belum mendapatkan dana operasional harus menjadi perhatian pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. “Kami berharap, pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten/kota terus meningkatkan anggaran. Sehingga seluruh ustaz dan ustazah di Sumsel mendapatkan dana operasional,” tukasnya. (cj4/via/ce4)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 29 Desember 2012

Kamis, 27 Desember 2012

Mensyukuri Manfaat Sungai Musi

Mensyukuri Manfaat Sungai Musi

Oleh: Saladin
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Pemerhati masalah perkotaan dan pemukiman
di Seberang Ulu



Pembangunan yang terus dipacu di berbagai belahan wilayah Kota Palembang menunjukkan keseriusan pemerintah untuk menjadikan Kota Palembang sejajar dengan kota-kota besar lain di Indonesia, bahkan sejajar dengan kota-kota besar di dunia sesuai dengan motto pemerintah kota untuk menjadikan Kota Palembang sebagai kota internasional yang maju, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Kota Palembang tidak dapat dipisahkan dari Sungai Musi dan Jembatan Ampera dan sungai ini telah menjadi ikon Kota Palembang. Oleh karena itu, tindakan pemerintah kota untuk merevilitasi kawasan Sungai Musi adalah langkah yang sangat tepat, bahkan sangat strategis dan mendesak.

Jika kita sedikit melihat ke belakang, cetak biru pembangunan (baca: modernisasi) Kota Palembang pada beberapa dekade paskakemerdekaan telah "menganaktirikan Sungai Musi" dalam waktu cukup lama.

Terbukti dengan beberapa kali pergantian kepemimpinan, wajah Sungai Musi tak kunjung berubah, tetap kumuh, kotor dan semrawut. Hal ini terjai karena titik berat pembangunan saat itu lebih fokus di wilayah Seberang Ilir atau bagian utara Musi yang secara teknis lebih mudah dikembangkan, karena sebagian besar berupa lahan kering atau daratan.

Sedangkan wilayah Seberang Ulu atau bagian selatan Sungai Musi sulit dilakukan pembangunan karena sebagian besar merupakan lahan rawa pasang surut. Akibatnya kawasan tepian Sungai Musi den sebagian besar wilayah Seberang Ulu menjadi "halaman belakang" kota yang terlupakan.

Untunglah para penentu kebijakan di pemerintahan kota belakangan ini mulai menyadari bahwa konsep dan paradigma pembangunan kota terdahulu memiliki kekurangan. Seiring dengan lahirnya konsep dan paradigma pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, maka "kekuatan lokal" yakni Sungai Musi kembali menjadi orientasi dan fokus pembangunan atau dalam bahasa ilmiahnya disebut waterfront city development sebagaimana yang telah diterapkan di kota-kota lain di dunia.

Tidak ada salahnya jika pemerintah kota mencontoh Bangkok yang berhasil menata tepian Sungai Chaopraya karena tipologi kotanya mirip dengan Kota Palembang. Disamping memperbaiki kualitas lingkungan sungai melalui program revilitasasi, tindakan pemerintah kota menyelamatkan dan melestarikan situs bersejarah patut kita apresiasi. Di antaranya Benteng Kuto Besak, Kampung Arab, Kampung Cina, masjid, kelenteng, rumah limas dan berbagai situs lainnya yang berdiri di sepanjang tepian Sungai Musi. Begitu juga upaya positif pemerintah kota dalam memperbaiki kampung-kampung kumuh di kawasan Seberang Ulu.

Alangkah eloknya jika perkampungan kumuh tersebut pada akhirnya dapat menjelma mejadi perkampungan permanen dengan rumah-rumah yang memiliki ciri khas pemukiman tepi sungai dan menjadi proyek percontohan.

Semua upaya itu tentu saja tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan di tepian sungai, tetapi juga tak kalah pentingnya adalah sebagai sebagian dari upaya besar pemerintah bersama warga untuk membentuk dan memunculkan kegeniusan lokal yang betebaran di sepanjang Sungai Musi yang mungkin belum yang mungkin belum semuanya terungkap.

Tentu saja revitalisasi Musi sebaiknya tidak hanya terhenti pada kawasan Sungai Musi tapi juga harus dilanjutkan dengan penataan anak sungai di Seberang Ulu dan wilayah Seberang ilir yang terhubung dan bermuara di Sungai Musi. Karena sebagian besar anak sungai ini khususnya berada di kawasan Seberang Ulu telah terdegradasi oleh bangunan yang berdiri di sepanjang bahu sungai serta tingginya pembungan limbah rumah tangga.

Degradasi anak sungai ini terlihat sangat mencolok terutama pada musim kemarau atau di saat air sungai surut. Tentu saja hal ini menjadi pemandangan yang kontras jika dibandingkan dengan wilayah kota lainnya. Apalagi jika dikaitkan dengan dengan keberhasilan Kota Palembang meraih Piala Adipura untuk kesekian kalinya.

Kegiatan revitalisasi tepian sungai ini hendaknya bukan hanya terbatas pada perbaikan atau pemasangan tanggul-tanggul semata tetapi juga harus secara berkelanjutan membuka jalur jalan inspeksi dan jalur hijau yang dibuat secara baik dan nyaman yang dapat digunakan oleh pejalan kaki, roda dua dan bahkan roda empat jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran atau kondisi darurat.

Sehingga terbentuk akses jalan baru dan sekaligus menjadi alternatif bagi warga untuk menuju ke wilayah Seberang Ulu atau Seberang Ilir secara langsung dengan menggunakan sarana angkutan penyeberangan sungai tanpa harus berputar melalui Jembatan Ampera yang kahir-akhir ini lebih sering mengalami kemacetan.

Memang, untuk membuka akses dan jalur hijau tepian anak sungai ini bukanlah semudah membalikan telapak tangan, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Terobosan yang bersifat win-win solution adalah kata kunci untuk menjamin keberhaasilan program ini.

Sungai Musi telah ada sebelum kita, orang tua, atau bahkan nenek moyang kita lahir dan bermukim di Kota Palembang. Secara Geologis kehadirannya boleh jadi muncul bersamaan dengan terbentuknya dataran, lembah, gunung, hutan dan danau di Pulau Sumatera sesuai dengan cetak biru alam raya yang ada di "Lauh al Mahfuz". Puluhan generasi yang bermukim di tepian Sungai Musi telah menikmati dan merasakan berbagai manfaat dari kehadiran sungai ini.

Bahkan pada masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam, Sungai Musi menjadi urat nadi dan lalu lintas utama perdagangan dan angkutan laut kerajaan. Dengan demikian panjang catatan sejarah dan kehadirannya, menurut hemat kami, Sungai Musi lebih dari sekedar sekedar memberi manfaat tapi merupakan berkah bagi Kota Palembang.

Di tengah krisis air bersih yang banyak dialami oleh kota-kota besar lain di Indonesia khususnya Kota Jakarta akhir-akhir ini, Sungai Musi tetap eksis sebagai penyuplai utama bahan baku air bersih bagi warga kota yang sepanjang pengatahuan kami belum pernah mengalami kekeringan bahkan pada saat musim kemarau sekalipun. Hingga kini kapasitas dan debit air Sungai Musi relatif tetap stabil sehingga sangat memadai untuk diambil secara mudah dan diproses menjadi air bersih oleh PDAM.

Boleh jadi bencana keringnya Sungai Musi masih "jauh panggang dari api," namun hal yang ada di depan mata yang cukup mengkhawatirkan kita adalah dengan adanya fakta yang menunjukkan bahwa air Musi saat ini tengah mengalami pencemaran.

.Meski masih dalam kategori sedang, namun jika tidak ditangani dengan baik, maka kondisi ini bukan tidak mungkin akan segera berubah menjadi tercemar berat. Limbah rumah tangga dan industri yang dibuang secara langsung ke sungai ditengarai menjadi penyebab utama turunnya kualitas air.

Hal ini tentu saja tidak hanya mengancam kehidupan biodata yang ada di dalam sungai tetapi juga dapat mengamcam kesehatan warga di sepanjang kawasan tepian yang mengkonsumsi langsung air ttersebut.

Disinilah dituntut peran aktif pemerintah untuk untuk sesegera mungkin melakukan langkah-langkah pengendalian pencemaran Sungai Musi melalui penerapan kebijakan AMDAL secara ketat bagi industri baru serta serta melakukan audit AMDAL terhadap industri-industri yang telah berdiri dan beroperasi di sepanjang sungai dan anak Sungai Musi.

Juga yang tak kalah penting adalah dengan mengadakan program penyuluhan yang berkaitan dengan perencanaan lingkungan dan sanitasi yang sehat bagi rumah tangga dengan melibatkan LSM dan pihak-pihak terkait.

Tentu saja pada akhirnya kesinambungan kebijakan menjadi kata kunci keberhasilan program revitalisasi Musi. Sudah selayaknya kebijakan pemerintah kota yang pro-lingkungan dan berpihak pada kepentingan masyarakat dipertahankan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan. Pemimpin dan partai yang berkuasa boleh saja berganti, tetapi penataan dan pembangunan di kawasan tepian Sungai Musi tidak boleh berhenti. (*/ce1)

Sumatera Ekspres, Kamis, 27 Desember 2012

Rabu, 26 Desember 2012

Bagus Kuning

Bagus Kuning

Daerah ini terletak di Kecamatan Seberang Ulu II tepatnya di Kompleks Bagus Kuning Plaju yang merupakan Makam Ratu Bagus Kuning dan sampai saat ini masih dikeramatkan karena menurut legenda Ratu Bagus Kuning orang yang sakti dan sebagai penyambung risalah Rasulullah melalui para wali untuk menyebarkan agama Islam di daerah yang dikuasainya yaitu Kawasan Batanghari Sembilan pada abad ke XVI. Beliau mempunyai pengikut atau penghulu sebanyak 11 orang, yaitu:

1. Penghulu Gede

2. Datuk Buyung

3. Kuncung Emas

4. Panglima Bisu

5. Panglima Api6. Syekh Ali Akbar

7. Syekh Maulana Malik Ibrahim

8. Syekh Idrus

9. Putri Kembang Dadar

10. Putri Rambut Selako

11. Bujang Juaro

Ratu Bagus Kuning hingga akhir hayatnya tidak pernah menikah dan tidak pernah haid (tetap suci), selain itu kita dapat melihat monyet/kera jinak yang menurut cerita keturunan siluman kera yang pada waktu bertanding dengan Ratu Bagus Kuning mengalami kekalahan sehingga siluman kera bersumpah keturunannya akan menjadi pengikut setia Ratu Bagus Kuning. Hingga saat ini kera-kera tersebut ada dan jumlahnya tetap tidak kelihatan bertambah.

Bagus Kuning

Tarian Daerah Sumatera Selatan

Tari Gending Sriwijaya
Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti Kepala Negara, Duta Besar dan tamu-tamu agung lainnya. Tari Gending Sriwijaya hampir sama dengan tari Tanggai, perbedaannya terletak pada penggunaan tari, jumlah penari dan perlengkapan busana yang dipakai.

Penari Gending Sriwijaya seluruhnya 13 orang terdiri dari:

1. Satu orang penari utama pembawa tepak (tepak kapur sirih)

2. Dua orang penari pembawa paridon (perlengkapan tepak)

3. Enam orang penari pendamping (tiga dikanan dan tiga dikiri)

4. Satu orang pembawa payung kebesaran

5. Satu orang penyanyi Gending Sriwijaya

6. Dua orang pembawa Tombak

Tari Tanggai
Tari Tanggai dibawakan pada saat menyambut tamu-tamu resmi atau dalam acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kain songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urai atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang dan tanggai ini berbentuk kuku dan terbuat dari lempengan tembaga.

Tari Tenun Songket
Tari ini menggambarkan kegiatan remaja putri khususnya dan para ibu rumah tangga di Palembang pada umumnya memanfaatkan waktu luang dengan menenun songket.

Tari Rodat Cempako
Tari ini merupakan tari rakyat bernafaskan Islam. Gerak dasar tari ini diambil dari negara asalnya Timur Tengah, seperti halnya dengan Dana Japin dan Tari Rodat Cempako sangat dinamis dan lincah.

Tari Mejeng Besuko
Tari ini melukiskan kesukariaan para remaja dalam suatu pertemuan mereka. Mereka bersenda gurau mengajuk hati lawan jenisnya. Bahkan tidak jarang diantara mereka ada yang jatuh hati dan menemukan jodohnya melalui pertemuan seperti ini.

Tari Madik (Nindai)
Masyarakt Palembang mempunyai kebiasaan apabila akan memilih calon, orang tua pria terlebih dahulu datang ke rumah seorang wanita dengan maksud melihat dan menilai (madik dan niindai) gadis yang dimaksud. Hal yang dinilai atau ditandai itu, antara lain kepribadiannya serta kehidupan keluarganya sehari-hari. Dengan penindaian itu diharapkan bahwa apabila si gadis dijadikan menantu dia tidak akan mengecewakan dan kehidupan mereka akan berjalan langgeng sesuai dengan harapan pihak keluarga mempelai pria.

Selasa, 25 Desember 2012

Palembang Golf Club



Tanpa kekurangan lahan hijau nan indah, Indonesia merupakan tempat yang ideal untuk dikunjungi dan mencoba ayunan stick golf Anda. Mulai dari Kepulauan Riau, sampai Sumatra, Jakarta, Jawa, Bali Kalimantan, dan Papua, lapangan golf kelas dunia dapat ditemukan di pulau-pulau besar di Indonesia ini. Banyak diantaranya telah dirancang oleh legenda golf dunia seperti Jack Nicklaus, Ian Baker-Finch dan Arnold Palmer. Lansekap alam yang dramatis menjadi latar belakang yang sempurna bagi permainan golf Anda.

Bagi para pemain golf dari seluruh dunia, Indonesia menawarkan berbagai lapangan yang merefleksikan pemandangan daerah tersebut apakah itu sawah pantai atau deretan pegunungan. Keramahan Indonesia yang terkenal di seluruh dunia akan membuat permainan golf Anda lebih menyenangkan karena semua tindakan akan diusahakan untuk mencapai semua keinginan Anda. Akan sulit untuk menemukan caddy yang lebih cekatan untuk membantu meningkatkan permainan Anda selain di Indonesia.

Fasilitas:

- Club House
- Loker
- Kamar mandi
- Pro-Shop
- Restoran
- Golf Club untuk disewa
- Driving Range
- Total hole: 18
- Total Par: 72
- Total Jarak: 5743 Y

Type Course: Umum
Pemilik: Pertamina & PEMDA TK I