Selasa, 18 Desember 2012

Sopir Taksi Lokal "Teriak"


Demo: Puluhan sopir taksi lokal melakukan demo di kantor Wali Kota, kemarin. Mereka menuntut Wako agar mencabut izin operasional taksi Blue Bird. Alasannya, kehadiran Blue Bird membuat penghasilan mereka berkurang



Pendapatan Turun, Blue Bird Tambah Armada



PALEMBANG – Puluhan sopir taksi yang tergabung dalam Primer Koperasi Angkatan Udara (Primkopau) Balido, dan Kotas mendatangi kantor Wali Kota Palembang, kemarin. Mereka menuntut Wako Eddy Santana Putra mencabut izin operasional PT Blue Bird Group di kota pempek ini.

Lho, apa masalah? Menurut para sopir tersebut, taksi Blue Bird tidak menggunakan tarif minimal yang diputuskan DPC Organda. Bahkan, Blue Bird akan menambah armada baru sebanyak 50 dari 100 unit yang ada.

Para sopir taksi lain pun resah. Lantaran jumlah kuota tersebut melebihi taksi lokal. Di samping, mereka mengaku pendapatannya setiap hari menurun lantaran banyak warga lebih memilih taksi Blue Bird daripada taksi lokal.

“Apabila tuntutan kita tidak dipenuhi, kita akan membawa massa lebih besar lagi ke kantor Wali Kota,” ujar Ican, seorang sopir taksi kepada wartawan. Sesuai SK DPC Organda No 020/kDPC-OGD/VI/2012 ditetapkan tarif minimal Rp20ribu walaupun jarak dekat.

Asisten III Setda Kota Palembang HMY Badaruddin menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti laporan para sopir taksi lokal di Palembang. “Kita diminta mereka untuk mengevaluasi keberadaan Blue Bird karena menurut mereka Blue Bird tidak mematuhi peraturan organda soal argo. Jarak minimal walau dekat harus membayar Rp20 ribu, tetapi ada yang Rp13 ribu dan sebagainya,” ujarnya.

Langkah selanjutnya, kata Badaruddin, pihaknya telah menerima laporan dan akan meneruskan laporan tersebut ke Wali Kota Palembang. “Nanti kita laporkan dahulu ke Wali Kota karena beliau pengambil kebijakan. Langkah apa yagn dilakukan? Pak Wali lebih tepat dan paham akan persoalan."

Namun, jelas Badaruddin, para sopir taksi lokal juga sudah memahami bahwa manajemen Blue Bird itu bagus. “Mereka minta agar taksi lokal (selain Blue Bird) untuk lebih diprioritaskan. Nah, kalau soal pelayanan itu kembali kepada hak kita masing-masing mau memilih yang mana."

Sementara itu, Kepala Bidang Pengawasan Pengendalian dan Penindakan Operasi (Wasdalops) Dishub Kota Palembang Pathi Riduan mengatakan menindaklanjuti laporan dari taksi lokal tersebut pihaknya memanggil manajemen Blue Bird untuk konfimasi. “Yang jelas, komitmen yang sudah ada harus dipatuhi terlebih dahulu. Ke depan, kita dapat melakukan razia terhadap taksi yang menarik tarif tidak seusai dengan argo. Kita siap apabila memang butuh show force."

Sebenarnya, terang Pathi, pemeriksaan itu mudah. “Tidak mesti dari razia, sebab dapat diketahui juga dari pemeriksaan di balai pengujian. Kita dapat megetahui taksi itu sudah sesuai dengan aturan atau belum karena setiap enam bulan kendaraan itu mesti dilakukan pengujian. Tetapi yang jelas, pihaknya memfasilitasi siapapun untuk bersaing di bidang angkutan, seperti yang dilakukan Transmusi,” jelasnya.

Ketua DPC Organda kota Palembang, H Sunir Hadi mengungkapkan Blue Bird belum layak untuk menambah armada karena jumlah taksi yang ada sudah lebih dari mencukupi. “Hasil survey kita belum layak adanya penambahan armada,” ungkapnya singkat.

Sementara itu, Kepala Cabang Blue Bird Wilayah Palembang Rudi Alwazan mengatakan tudingan para taksi lokal bahwa Blue Bird tidak menerapkan tarif minimal itu tidak benar. “Kita sudah menaati setiap peraturan yang ditetapkan. Kalaupun nanti ada sweeping, kita sangat menyambut baik. Tetapi sweeping itu jangan hanya berlaku untuk Blue Bird, tetapi dilakukan juga kepada taksi yang lain,” ungkapnya

Mengenai rencana untuk penambahan armada, Rudi mengakui rencana tersebut benar. “Kita dapat izin menambah 100 unit, tetapi tahap awal kita akan tambah 50 unit dahulu. Realisasinya, kalau tidak ada halangan akan datang awal Januari nanti,” terangnya.

Dia mengakui, kebutuhan taksi di Palembang masih kurang. Hal itu berdasarkan analisa kelayakan usaha yang dilakukan Blue Bird di Palembang. Karena rata-rata masyarakat banyak kecewa dengan pelayanan taksi lokal.

Penambahan itu, terangnya, didasarkan pada kebutuhan customer sebab armada yang ada sudah tidak dapat menampung kebutuhan masyarakat. Dalam sehari, ada sekitar 1.800 customer yang order taksi Blue Bird. “Kita sebenarnya ingin mengajak para taksi lokal untuk bersama-sama meningkatkan pelayanan. Kita berharap mari kita bersaing secara sehat dan tingkatkan pelayanan masing-masing. Apabila pelayanan baik, maka dengan sendirinya masyarakat memilih taksi itu,” ungkapnya (cj7)

Sumatera Ekspres, Selasa, 18 Desember 2012

Minggu, 16 Desember 2012

Wayang Tiongkok Nyaris Hilang


Ilustrasi Wayang Tiongkok (LEMABANG 2008 Image).

PALEMBANG -- Keberadaa kesenian tradisional makin memprihatikan saja. Teknologi yang kian berkembang membuat life style dan minat masyarakat bergeser. Patokannya ke budaya-budaya yang lebih modern. Akibatnya seni budaya tradisional pun terabaikan.

Pengurus Grup Wayang Tiongkok Sam Kau Bun Gei Siah, Acit, mengakui demikian. "Pertunjukan wayang orang asal Tiongkok ini sudah jarang sekali. Padahal wayang tersebut sangat menarik dan punya makna kehidupan di setiap ceritanya," ujar Acit kepada koran ini, kemarin (14/12).

Saat ini grup wayang Tiongkok yang ada di Palembang hanya ada dua grup. "Padahal warga keturunan Tiongkok di Palembang sendiri telah mencapai ribuan, namun kebanyakan yang menyukai kesenian ini kalangan orang tua," ujarnya.

Oleh karena itu, untuk menarik dan mengajak kalangan muda menonton wayang orang, pada setiap penampilan, pihaknya akan membuat cerita wayang yang mengisahkan percintaan anak muda. "Penggemar wayang Tiongkok ini mayoritas kalangan orang tua yang rindu masa kecil, temanya kita sesuaikan dengan kegemaran penonton. Kia selingi dengan tema anak muda agar menarik minat kalangan muda Tionghoa," katanya.

Dia menjelaskan, Sam Bun Gei Siah sendiri merupakan perkumpulan grup wayang Tiongkok yang eksistensinya sudah sangat jarang tampil dalam sebuah kesempatan, bahkan di kalangan generasi muda Tionghoa sendiri banyak yang tidak mengenal lagi kesenian tradisional ini.

Beum lama ini, lanjut dia, grup wayang Sam Kau Bun Siah sempat menampilkan pertunjukan wayang orang di Kelenteng Liong Toh Kiong, Jl Dr M Isa. "Saat HUT Dewa, grup wayang kita biasanya dilibatkan pementasan kesenian untuk menghibur umat yang memperingati HUT Dewa," tuturnya.

Selain hiburan, juga sebagai upaya pelestarian dari pengurus Kelentang. Saroni, Ketua Kelenteng Liong Toh Kiong mengungkapkan, pada saat perayaan HUT Dewa, pihaknya sengaja memberikan hiburan wayang Tiongkok kepada para warga keturunan Tiognhoa yang datang ke kelenteng.

"Wayang Tiongkok sudah jarang sekali kita temui. Tidak semua kelenteng menampilkan wayang. Tapi kita ingin ikut melestarikannya agar tidak punah," ungkap dia. Selain itu agar generasi muda mengenal dan ikut berupaya melestarikan kebudayaan leluhur tersebut.

Pertunjukkan wayang Tiongkok menampilkan cerita-cerita tentang leluhur warga keturunan Tionghoa. Kebanyakan menampilkan cerita klasik berdasarkan penuturan para tetua atau didongengkan dari ibu ke anak. (ce15/ce1)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 15 Desember 2012

Danau Ranau Masih Menawan


Pemandangan Danau Ranau yang terletak di Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumsel yang hingga kini masih asri dan belum banyak tersentuh

MUARADUA - Lokasi wisata Danau Ranau, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan), masih menarik untuk dikunjungi.

"Tapi sayang, lokasinya agak jauh dari Kota Palembang. Perjalanan enam jam, tanpa paket pendukung diperjalanan terasa membosankan," ujar Usman Effendi, pengurus Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Sumsel.

Danau terluas kedua di Pulau Sumatera, setelah Danau Toba di Sumatera Utara, merupakandanau volcano masih menyajikan pemandangan alami dan belum banyak sentuhan.

Pemandangan pagi hari, beberapa perahu pencari ikan menjadi sajian menarik. Nelayan memasang jaring untuk diangkat menjelang sore. Atau melepas jaring menjelang malam, untuk dipanen menjelang pagi.

Danau Ranau merupakan danau bentukan dari letusan besar pada zaman purba. Menurut kajian kalangan geologi, danau terbentuk akibat letusan volkano sekitar 2 juta tahun lalu dan menyisakan kaldera di bawah permukaan air.

Danau yang berada persis berada di atas Patahan Semangka, yang membentang sepanjang 1.200 kilometer dari ujung Aceh sampai ke Selatan sampai ke Lampung Selatan.
Penulis : Sutrisman
Editor : Soegeng Haryadi
Sriwijaya Post - Jumat, 14 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012

Kerajinan Palembang

1. Sewet Songket
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *




Sewet Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemben atau selendang.

Bahan Sewet Songket ini ditenun secara teliti dengan menggunakan benang. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lain.

Oleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan yang halus dan seni yang tinggi, maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan.

Pakaian Songket lengkap dan dikenakan oleh penganten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran), Aesan Penganggon (paksangko), Aesan Selendang mantri, Aesan Gandek (gandik) dan sebagainya.

Macam-macam Kain Songket

1. Songket benang mas Lepus dan warna warni

2. Songket benang mas Lepus biasa

3. Songket benang mas Lepus Jando Beraes

4. Songket benang Jando Penganten

5. Songket benang emas Bungo Inten

6. Songket benang emas Tretes Midar atau Bidar

7. Songket benang emas Pulir Biru

8. Songket benang emas Kembang Siku Hijau

9. Songket benang emas Bungo Cino

10. Songket benang emas Pacik

11. Songket benang emas Cukitan

2. Sewet TanjungA
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Sewet Tajung adalah kain yang khusus dipakai untuk laki-laki. Kalau wanita ada kain Tajung khususnya pula yang disebut dengan kain Tajung Blongsong. Sedangkan kain Tajung khusus untuk pria adalah yang disebut dengan Gebeng dan ada lagi yang disebut dengan Tajung Rumpak atau Tajung Bumpak. Sewet Tajung ini dalam pembuatannya memakai benang emas walau tak penuh.

Macam-macam Sewet Tajung adalah:

1. Limar

2. Limar Patut

3. Petak-petak berwarna

4. Geribik

5. Belongsong

3. Sewet Pelangi dan Jumputan
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *




Kain Pelangi ini sangat beraneka ragam dan sangat indah. Bahannyapun dari benang kain sutra serta cat khusus yang tidak luntur. Pembuatannya tetap secara tradisional.

Sewet Pelangi permukaannya licin dan halus serta bisa dikepal dengan tangan sedangkan kain atau sewet jumputan itu bunga-bunganya tampak seperti dijemput-jemput dengan benang sewaktu perebusan sehingga selesainya menjadi indah dan bagus.

4. Sewet Peradan
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Sewet peradan disebut juga Sewet Prada. Kain yang sudah jadi kemudian di Prada dengan cat emas yang khusus untuk mengecat kain. Biasanya kain yang di Prada adalah kain yang bagus baik bahan maupun motifnya.

5. Sewet Batik Palembang
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *




Selain kain-kain yang disebut diatas ada juga kain Batik. Batik Palembang mempunyai ciri khusus dengan motif yang halus dan warnanya yang manggis. Sewet Batik Palembang yang terkenal adalah Sewet Batik Jepri dan Batik Lasem.

6. Seni Ukir
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *




Dalam pola atau bentuk ukiran kayu, dua elemen penting yang tidak dapat dipisahkan dari penjelmaan sesuatu pola, khususnya dalam motif dan teknik penyusunan selain berfungsi sebagai nilai artistik dan ventilasi (lobang angin) juga mempunyai fungsi bermakna filosofi.

Seperti kita temui di bangunan-bangunan lama rumah Palembang dan bangunan lainnya banyak ditemui ukiran-ukiran kayu yang indah dan menarik sehingga menampakkan keanggunan dan keagungan budaya negeri dan masyarakat pembuatnya.

Museum Bala Putra Dewa



Museum ini dibangun pada tahun 1877 dengan arsitektur tradisional Palembang di atas area seluas 23.565 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Pada mulanya museum ini bernama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan, selanjutnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1223/1999 tanggal 4 April 1990. Museum ini diberi nama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan “Bala Putra Dewa”

Nama Bala Putra berasal dari nama seorang raja Sriwijaya yang memerintah pada abad VIII-IX yang mencapai kerajaan maritim.

Di museum ini terdapat koleksi yang menggambarkan corak ragam kebudayaan dan alam Sumatera Selatan. Lokasinya terdiri berbagai benda histrografi, etnografi, feologi, keramik, teknologi modern, seni rupa, flora dan fauna serta geologi. Selain terdapat rumah limas dan Rumah Ulu Ali, kita dapat mengunjunginya dengan menggunakan kendaraan umum trayek km 12.